Akar masalah pendidikan di negeri Antah Berantah

By Taufiq Effendi

Saya baru saja dikunjungi oleh seorang sahabat seperjuangan semasa kuliah dulu yang sudah lama tidak ketemu. Kita membicarakan banyak hal, mulai dari pernikahan hingga dunia pendidikan. Kami berdua adalah Sarjana pendidikan dan berkarir di dunia pendidikan. Bisa dibilang kami adalah pendidik dan menjadi pendidik adalah memang mimpi kami ketika memutuskan untuk menimba ilmu dari kampus tercinta. Namun, dunia pendidikan di negeri Antah Berantah zaman terang benderang sekarang, banyak dikontaminasi oleh oknum-oknum pendidik dan oknum-oknum lembaga pendidikan. Karena potret kelam dunia pendidikan di negeri Antah Berantah inilah saya akhirnya membuat tulisan ini.


Rapat Sekolah

“”
Hiruk-pikuk di sana sini. Bisik-bisik mendesis hamper di setiap baris. Muka-muka tidak sedap mulai memperkeruh suasana. Seorang guru perempuan menangis. beberapa guru menunjukkan otot-otot wajah yang tegang. Guru-guru yang lain Nampak ingin segera selesai. Ruang rapat kenaikan kelas menjadi panas. Beberapa guru ingin agar anak-anak yang “bermasalah” dikeluarkan saja. Mereka ingin agar anak-anak yang memberikan “beban” tambahan dipindahkan ke sekolah lain saja. Mereka ingin hanya anak-anak yang pintar dan tidak bermasalah saja yang diterima dan dididik. Sementara, beberapa guru yang tulus yang merasa memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak tanpa perbedaan kalah suara di tengah panasnya rapat. Sementara itu, guru-guru yang lain ingin agar rapat segera selesai karena perdebatan sudah terlalu lama.
“”


Kecemasan Tak Berarti

Narasi di atas adalah ilustrasi yang terjadi di banyak sekolah di negeri Antah Berantah. Jika seorang siswa nakal, bagaimana solusinya? Jika ada seorang anak yang buta ingin belajar di sekolah regular, bagaimana solusinya? Jika ada siswa yang sering bolos bagaimana solusinya? Jika ada anak didik yang membutuhkan penjelasan berkali-kali hingga akhirnya mengerti bagaimana solusinya? Jika ada anak yang bertanya macam-macam bagaimana solusinya? Ini adalah sederet contoh pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali terjadi di kehidupan pendidikan kita. Jujur saja, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini sering kali bernada negative. Anak-anak ini akhirnya harus berbesar hati ditolak oleh sekolah, sebuah lembaga yang paling mengerti tentang arti pentingnya pendidikan.

Perlakuan Terhadap Anak yang Unik

Jika ingin jujur, masih sangat banyak masyarakat negeri Antah Berantah yang mendiskriminasi anak-anak seperti ini seolah-olah mereka adalah sampah masyarakat pendidikan. Mereka seolah-olah hanya akan member beban. Padahal, sejarah sudah mencatat banyak individu-individu yang memiliki keterbatasan fisik, yang dulunya dicap nakal dan lain sebagainya akhirnya mampu memberikan kontribusi positif yang besar kepada masyarakat luas.

Penyebab Diskriminasi Pendidikan

Setidaknya ada dua akar masalah yang menyebabkan diskriminasi-diskriminasi pendidikan ini terjadi berulang-ulang di negeri Antah Berantah ini. Continue reading